Tampilkan postingan dengan label PGMI 1B DWI FITRIYANI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PGMI 1B DWI FITRIYANI. Tampilkan semua postingan

Selasa, 24 November 2015

Banggalah padaku suatu hari nanti


Sinar sang surya sayup sayup mulai menyelinap masuk ke kamar Dian melalui cela – cela tirai jendelanya. Dian, gadis berumur 15 tahun itu masih lelap di atas kasurnya yang empuk. Ia sangat mengantuk setelah semalam sholat Tahajud dan dilanjutkan sholat subuh. Lalu terdengar suara wanita dari luar kamar memanggil manggil nama gadis itu.
“Yan, Diaan. Bangun nak! Kamu hari ini kan ada upacara” teiak ibu Dian dari dapur
“iya bu Dian sudah bangun” sahut Dian yang mulai terbangun dari Kasur. Ia bergegas mengambil handuk dan masuk kamar mandi bahkan melenggang dengan santai di samping ibunya yang sibuk menyiapkan sarapan
“kamu itu sudah dewasa Dian, jangan jadi anak pemalas. Contoh kakakmu Lutfi, pagi – pagi sekali sudah siap berangkat kuliah” ibu Dian menggerutu sendiri di dapur, padahal Dian sudah berada di kamar mandi.
3 menit kemudian Dian keluar dari kamar mandi dan langsung masuk ke kamarnya lagi untuk berganti seragam. Sedangkan Lutfi, kakak Dian adalah seorang mahasiswa semester 2 di jurusan ekonomi, Universitas Gajah Mada dengan jalur masuk SNMPTN atau undangan. Pantas saja orang tua Dian sangat bangga dan sangat meyayangi Lutfi, karena diam – diam Lutfi pernah meraih ranking 1 di kelasnya selama 2 tahun tanpa sepengetahuan orang tuanya.
Setelah berganti seragam, Dian ikut sarapan di meja makan bersama Ayah, Ibu dan kakaknya. Ia sudah terbiasa di banding bandingkan dengan kakaknya yang sangat pintar itu. Namun di sisi lain ia juga bangga pada dirinya sendiri karena jarang merepotkan orang tuanya. Bahkan ia berusaha memenuhi kebutuhannya sendiri. Seperti pagi ini
“Lutfi, ini uang sakumu dan bekalmu hari ini ya. Jangan pulang terlalu malam. Kalau ada kebutuhan mendesak pakai uangmu dulu nanti ibu ganti. Ayo cepat berangkat, Ayahmu sudah menunggu.” kata ibu kepada Lutfi, lalu Lutfi mulai beranjak dari tempat duduk dan berpamitan kepada ibunya. Lutfi selalu berangkat ke kampus diantar Ayah sampai ke stasiun, lalu naik kereta dan angkutan umum untuk sampai ke kampusnya.
Sedangkan pada Dian
“Dian, kamu punya tabungan kan? Hari ini uang sakumu pakai uang tabunganmu dulu ya nak. Uang ibu sudah menipis untuk uang saku kakakmu, tapi ini tetap ada bekal untuk kamu” kata ibu kepada Dian yang masih asyik melahap sarapannya.
“Iya bu kan sudah biasa pakai uang tabungan Dian sendiri. Malah Dian bayar buku pakai uang tabunganku sendiri” jawab Dian sengaja agar ibunya peka.
“Oh begitu, iya bagus itu. Kapan – kapan saja ya ibu ganti uangmu. Ingatkan ibu. Eh sudah jam berapa ini, ayo cepat berangkat” sahut ibu mengagetkan Dian
            Dian berangkat ke sekolah mengendarai sepeda motor yang dulu pernah ia minta agar orangtuanya tidak perlu bersusah payah mengantarnya ke sekolah setiap hari. Jarak antara rumah dan sekolah Dian memang jauh namun Dian yang telah  menginjak semester 2 di kelas 10-D SMAN 5 termasuk siswi yang mandiri dan aktif di salah satu ekstrakulikuler sekaligus organisasi di sekolahnya, karena ia senang saat berkumpul dengan teman dari kelas lain untuk berbagi informasi, berdiskusi bahkan bergurau sampai sore tiba.   
Keesokkan harinya, tidak seperti biasa Lutfi tidak ikut sarapan bersama keluarga di ruang makan. Ketika Dian menanyakan keberadaan Lutfi kepada ibunya, ibunya menjawab kalau Lutfi sedang sakit, semalam Lutfi batuk – batuk sampai mengeluarkan cairan kuning. Ayah dan ibu sepakat kalau hari ini akan meabawa Lutfi ke rumah sakit untuk periksa kesehatan. Dalam hati, Dian berkata sebegitu sayangnya orangtuanya kepada anak sulungnya daripada anak bungsunya. Bahkan Dian membayangkan “kalau aku sakit, apakah orangtuaku akan sekhawatir ini kepadaku?”
Pikiran Dian selalu melayang kemana mana, ia merasa ada diskriminasi di dalam keluarganya. Bahkan haknya sebagai anak dikurangi atau tidak sepenuhnya terpenuhi dari segi material dan kasih sayang. Dian cuma bisa berusaha, bahwa suatu hari nanti ia ingin lebih membanggakan daipada kakaknya.

Selasa, 27 Oktober 2015

Semangat Bangkit


Aku tak kuasa melihat negeri ini
Banyak bencana alam dimana – dimana
Banyak bencana kebejatan manusia merajalela
Sangat miris aku melihatnya
Namun, aku takkan membiarkan
Diriku terus berdiam
Melihat bangsa ini terbelenggu
Dalam kemiskinan dan kemunafikan
Wahai kalian anak bangsa
Marilah kita bersama sama
Mengobarkan semangat Nasionalisme
Membebaskan negeri yang masih terbelenggu
Mengibarkan lagi sang merah putih


Jumat, 16 Oktober 2015

Sampit Mendunia, Image Buruk Suku Dayak


            Kita sebagai masyarakat Indonesia, pasti sudah tak asing lagi dengan tragedi Sampit yang khas dengan image suku Dayak di Kalimantan. Image itulah yang membuat para orang tua menghimbau anak – anak mereka agar berhati – hati pada suku Dayak, karena mereka kebanyakan sangat sensitif jika ketentraman mereka diganggu oleh suku lain. Nah, tragedi ini pecah pada tahun 18 Februari 2001 di kota Sampit, Kalimantan Tengah. Sejarah tragedi ini disebut Sampit ya mengambil dari nama kota tempat kejadian. Penyebab tragedi ini mulai muncul sejak dicanangkannya program transmigrasi warga Madura ke pulau Kalimantan Tengah, seiring berjalannya waktu warga Madura ini mulai berkembang sebanyak 21% di wilayah Sampit dan mereka mulai meningkatkan taraf kehidupannya dengan membuat hukum untuk menguasai dan mengkontrol industri – industri seperti perkebunan, pertambangan di sekitar Sampit itu. Merasa mempunyai wewenang dan kekayaan yang lebih, warga Madura ini mulai menggeser warga pribumi. Suku Dayak yang asli warga pribumi tentu sangat marah karena wilayah asli mereka kini diambil alih oleh pendatang, suku Dayak mulai menyerang warga Madura dengan membakar rumah, melakukan pemberontakan dan secara otomatis dilawan oleh warga Madura sampai yang paling parah warga suku Dayak mempunyai ritual untuk mencari korban untuk dipenggal kepalanya, ada sekitar 100 warga Madura yang dipenggal kepalanya secara sadis oleh suku Dayak. Inilah yang menyebabkan image suku Dayak menjadi buruk, mereka kebanyakan mempercayai dan mengunakan hal – hal yang berbau gaib untuk mengalahkan musuhnya. Tragedi Sampit ini menyebar sampai ke pulau Jawa, dan hingga sekarang pun jika ada pendatang ke pulau Kalimantan sampai ia menikahi warga suku Dayak maka mereka tidak akan bisa kembali ke daerah asal, jika ada yang berani pulang ke daerah asalnya maka akan terjadi sesuatu yang buruk pada orang itu. Indonesia memang memiliki banyak suku dan budaya yang beragam, masing – masing memiliki ciri khas dan kebiasaan yang berbeda ada pula yang ingin berkembang mengikuti zaman namun ada pula yang masih menjalankan hidupnya mengikuti adat nenek moyangnya dan tidak mau berkembang mengikuti zaman. Yang terpenting bagi masyarakat Indonesia adalah kita harus menjaga perasaan suku lain serta tidak mengganggu atau mengusik wilayah milik pribumi.   

MATERI MACAM-MACAM GERAK

A. Lokomotor Gerakan lokomotor  gerakan yang ditandai dengan adanya perpindahan tempat, seperti jalan, lari, melompat, dan mengguling.  Ger...