CARI DI BLOG INI

Memuat...

Selasa, 29 Desember 2015

El yang Malang

Seorang laki-laki kecil yang malang, namanya El. Umurnya 8 tahun. ia tinggal di rumah yang besar dan mewah, semua fasilitas yang ia butuhkan semuanya sudah tersedia. Namun meski begitu ia tak ingin dirumah karena dirumah sangat membosankan dan ia sangat kesepian. ia tak punya teman bermain, namun saat disekolah ia mempunyai teman yang bernama Ronald, Jesen, dan Demas. Orang tua merekapun sudah kenal dan berteman baik dengan orang tuanya akhirnya ia boleh berteman hanya dengan mereka. Mereka berempat selalu bermain bersama, hingga 9 tahun kemudian, saat mereka duduk di bangku SMA , mereka sekolah di SMA yang sama. Boleh dibilang mereka berempat ini adalah genk yang terpopuler disekolah. Banyak cewek-cewek yang kagum dan tergila-gila dengan mereka. 
Suatu saat ada seorang gadis yang bernama Bunga ia dari kalangan menengah ke bawah. Semua meresa terheran-heran. Padahal sekolah ini hanya untuk orang-orang kaya. Ternyata Bunga bisa sekolah karena ia mendapat beasiswa. Bunga sangat membenci genk yang terkenal itu. Karena mereka adalah anak orang kaya dan sombong. Disuatu tempat, bertemulah El dan Bunga. Mereka saling beradu mulut dan berbeda pendapat, namun, lama-lama kelamaan karena terbiasa bersama , El sanagat mengagumi sosok Bunga karena Bunga adalah sosok gadis yang rendah hati, pekerja keras, pintar, dan berbakti pada kedua orang tua.
Akhirnya mereka berdua saling jatuh cinta, namun mereka tidak mungkin bisa bersama karena ibu El sangat membenci Bunga. Ibu El terkenal sangat kejam. Alasan ibu El tidak mau memberi restu pada mereka karena Bunga berasal dari keluarga yang sederhana. Saat berita tentang El sangat mencintai Bunga dan mereka diam-diam sering keluar bersama ibu El sangat marah dan sejak saat itu El dikurung dirumah hanya boleh sekolah namun dengan pengawalan bodyguard yang dikirim oleh ibunya. Saat di sekolah El tak tahan kesana kemari diikuti oleh bodyguard ia tak bebas untuk berkomunikasi dengan siapa saja terutama dengan Bunga. Rasa rindupun tak tertahankan untuk bertemu dengan Bunga, Elpun membuat rencana agar bisa meloloskan diri dari bodyguard itu. Akhirnya El lolos dari kumpulan bodyguard dan kabur ke sebuah tempat bersama dengan Bunga. Tak disangka ternyata disana El bertemu dengan ibunya. Masalah semakin bertambah runyam ketika El sedang asyik bermain dengan Bunga. Ibu El semakin marah dan akhirnya El langsung dikirim keluar negeri untuk melanjutkan studinya agar sepulang dari studinya bisa melanjutkan bisnis keluarga. Hal itu yang diinginkan oleh ibunya. dan juga agar mereka berdua tidak saling bertemu. Namun hal ini sangat bertentengan dengan keinginan El. Yang diinginkan El hanyalah menjadi dokter dan hidup bahagia bersama Bunga. Ibunya tetap tak ingin memberi kebebasan pada El untuk memilih. Dan tetap pada pendiriannya sendiri agar El masuk kuliah di jurusan management agar bisa melanjutkan bisnis keluarganya.

Dari Amerika Menuju Indonesia


Sharel Cristiani, Remaja yang telah genap berusia 18 tahun ini tinggal di Amerika Serikat. Sebut saja panggilannya Sharel. Sharel memiliki hobby berkeliling ke Negara orang. semanjak ia berusia 10 tahun bersama bibinya. Orang tua sharel telah meninggalkannya sehingga ia belum tau wajah kedua orang tuanya seperti apa. Ibunya meninggal ketika dia masih berusia 6 bulan dan ayahnya telah meninggalkan ibunya semenjank sharel masih belum lahir. Sejak kecil Sharel diasuh dan dibesarkan oleh bibinya, adik dari ibunya sebut saja namanya Rachel. Ayah Sharel meninggalkan ibunya karena ayah dan ibunya sering bertengkar mempertahankan egonya masing-masing kata Bibi Rachel. Mendengar hal itu Sharel mmenjadi tergucang jiwanya karena baru kali ini diceritakan bibinya hal yang sebenarnya. Namun bibi Rachel tidak putus asa, dia sangat menyayangi Sharel karena itu dia berusaha keras dan tidak ingin Sharel terkena imbas dari kedua orang tuanya itu. Setelah berusia 20 tahun
Sharel tumbuh menjadi sosok wanita yang mirip seperti bibinya cantik dan bertalenta. Sharel telah banyak menguasai bahasa-bahasa asing karena sejak berusia 15 thun ia sudah berkeliling dunia. Bukan Cuma bahasa saja yang ia mengerti tapi juga agama-agama atau kepercayaan yang ada di Negara itu ia juga mengerti. Entah kenapa tiba-tiba Sharel meminta untuk berlibur ke Indonesia selama seminggu tanpa ditemani bibinya. Setelah di Indonesia dia berusaha untuk mengenal agama-agama yang ada di Indonesia, terutama agama mayoritas orang Indonesia yaitu agama islam. Dia merasa ada yang berbeda dari agama tersebut. Karena selama ia memahami agama-agama lain mudah-mudah saja namun saat mempelajari agama islam kok malah susah, itu membuatnya semakin penasaran.
Sharel Cristiani kembali ke negaranya, dia bercerita kepada bibi Rachel tentang agama islam, bibinya pun terkejut tanpa berkata apapun karena bibinya belum tau tentang agama tersebut. Namun bibinya mengalihkan pembicaraan dan tiba-tiba meminta sharel untuk melanjutkan perusahaan bakery miliknya di Amerika Serikat. Tanpa berpikir panjang sharel pun menyetujuinya. Setelah beberapa bulan sharel membantu bibinya mengelola perusahaan bakerinya dia minta izin bibinya “bi, sharel ingin berlibur ke Indonesia untuk bulan ini, apa bibi mengizinkan?? Bibinya pun mengizinkan.
Saat tiba di Indonesia sharel bertemu dengan sosok menawan yang bernama Ferdi Az-Zuhri dia baru pulang dari pesanten. Ferdi terkejut melihat pakaian yang dikenakan Sharel. Sharel memulai pembicaraan “ hai, apakah kamu orang Indonesia?, Ferdi menjawab “tentu saja, kamu siapa?. “perkenalkan namaku Sharel Cristiani dari Amrik, emm panggil saja Sharel”. Ferdi menyambungnya “nama yang bagus, aku Ferdi Az-Zuhri orang-orang biasanya memanggilku Ferdi. Nomong-ngomong tujuan nona ke Indonesia untuk apa? Apa ada yang bisa saya bantu”.Mereka berdua mengobrol lama tepat di depan rumah kuno sambil menunggu waktu ashar tiba. Sharel bertanya banyak kepada ferdi tentang agama islam, agama yang dulu pernah dipelajari sharel namun tak kunjung mengerti. Sharel dan ferdi saling akrab. Sharel meminta ferdi untuk mengajaknya kerumah ferdi. Ferdi mengiyakan namun dengan syarat sharel harus merubah cara berpakaiannya. Maklum saja sharel bukan orang muslim jadi kurang tau mengenai cara berbusana yang sopan dan baik namun setelah diminta Ferdi untuk merubahnya sharel pun mengiyakannya.
Setelah tiba dirumah Ferdi, orang tua ferdi Bu Sari dan Pak Suryo menyambutnyadengan senang hati. Tiba-tiba sharel mendengar suara orang mengaji dengan suara yang begitu indah ternyata itu adalah Raffi, adik Ferdi. Sharel semakin nyaman berada dirumah Ferdi karena keluaga Ferdi begitu religious. Tak lama kemudian Sharel menyatakan ingin masuk agama islam, ferdi pun menanyakannya kembali karena ferdi tidak ingin orang masuk agama islam karena terpaksa. Dengan begitu lantang sharel mengatakan bahwa ia ingin masuk agama islam atas dasar kemauannya sendiri bukan karena paksaan atau karena hal lain. Ferdi dan keluarganya dengan senang hati membantu sharel mengucapkan syahadat sebagai awal dari rukun islam. 
Beberapa minggu kemudian setelah Sharel masuk islam, kemudian dia menelvon bibinya bahwa ia telah berpindah agama dari Kristen menjadi beragama islam. Pada pagi harinya Bibi Rachel datang ke Indonesia menemui keponakannya yang kini beragama islam. Bibi Rachel terkejut melihat satu-satunya keponakannya mengenakan baju muslim yang semakin terlihat anggun dan cantik itu. Sharel bercerita banyak tentang Agama islam kepada bibinya. Bibinya pun penasaran dan memutuskan untuk tinggal di Indonesia selama satu bulan. Ada yang berbeda yang dirasakan bibi Rachel selam tinggal di Indonesia dan bergaul dengan orang muslim. “ Sungguh aku tidak pernah merasakan kedamaian seperti yang pernah aku rasakan sebelumnya”. Ucap bibi Rachel dalam hati. Tak lama kemudian bibi Rachel juga menyatakan masuk islam.
Hal ini juga bukan dikarenakan ikut-ikutan keponakannya, nmaun bibi Rachel telah merasakan kedamaian pada agama islam. Setelah keduanya masuk islam Sharel tinggal di Indonesia namun bibinya kembali ke Amerika Serikat Untuk mengurus Perusahaan Bakery miliknya. Dan Sharel akhirnya menikah dengan Ferdi karena meraka berdua sudah waktunya menjalankan sunnah rasulnya. Dari cerita diatas kita tahu bahwa kita boleh memilih agama apa saja yang kita inginkan karena kita memiliki hak Asasi yang salah stunya adalah kebebasan dalam memilih agama, namun dalam memilih agama pilihlah agama yang rahmatanlil alamin yang dapat membawa manfaat untuk kita.
By: Ani Nur Jannah (PGMI 1B)

Kamis, 24 Desember 2015

Tekanan berujung Kebahagiaan

Pelanggaran HAM

Namaku Aufanur laila, biasa dipanggil nur. Aku lahir tepat 18 tahun yang lalu di sebuah desa terpencil di kota batam. Aku hidup dalam kesederhanaan, ehmm mungkin lebih tepatnya dalam kesusahan. Ayahku hanya seorang nelayan dan ibuku pun hanya seorang buruh cuci yang tak menentu gajinya.
Pada suatu waktu ayah dan ibuku mengirimku kesebuah kota yang kukenal dengan nama Jombang. Yah, ayah dan ibuku mengirimkan aku kesana untuk mondok di salah satu pesantren di Jombang. Jujur sebenarnya aku tak setuju dengan keinginan mereka. Aku lebih memilih berada dirumah untuk membantu ayah dan ibuku. Tapi tidak dengan mereka, mereka bilang. "Kamu anak kami satu-satunya nak. Kamu memiliki hak untuk bisa menuntut ilmu. Dan memiliki hak untuk bisa berusaha hidup lebih baik." Karena ucapan mereka itu akupun menyetujui keinginan mereka.

6 tahun sudah aku mondok di salah satu pondok pesantren di jombang. Kini aku masuk di salah satu universitas negeri di surabaya. Aku bisa masuk ke universitas tersebut karena aku berhasil mendapatkan beasiswa penuh untuk bisa masuk di perguruan tinggi negeri. Jujur, saat pertama kali masuk di sini, aku merasa malu. Melihat kondisiku yang hanya anak dari seorang nelayan dan juga hanyalah lulusan pondok pesantren di pelosok kota jombang aku merasa malu dan juga takut.
Benar saja apa yang tlah aku pikirkan, bayangan2 ketakutan yang selama ini aku takutkan benar-benar terjadi. Gaya hidup di sini benar-benar berbeda. Tak seperti yang aku alami di pondok maupun dirumah. Disini mereka hanya berteman dengan orang yang strata hidupnya sama. Mereka sungguh acuh terhadapku dan orang-orang lain yang sama sepertiku. Mereka menghindar bahkan juga risih jika berteman dengan kami. Bahkan terkesan mereka mendiskriminasiku.
3.5 tahun kulalui dengan berat sekali. Dengan tekanan-tekanan yang ada. Masa-masa kuliahku sungguh berat. Tapi alhamdulillah aku bisa lulus dari kampusku tepat waktu dan juga mendapat gelar cumlaude alias mahasiswa terbaik. Lalu. Bagaimana dengan teman-tamanku dulu? Entah. Tak satupun dari mereka yang wisuda bersamaan denganku. Banyak dari mereka yang tertinggal dan ada juga yang keluar dari kampus bahkan ada pula yang di keluarkan oleh universitas. Mungkin ini semua akibat dari gaya hidup dan juga pola pikir mereka. Mereka terlalu larut akan kebahagiaan sesaat. Dan juga acuh dan terlalu jual mahal dengan orang yang ada dibawahnya.

Rabu, 23 Desember 2015

Nasionalisme Yang Luntur

NASIONALISME YANG LUNTUR
            Nasionalisme adalah suatu sikap politik dari masyarakat bangsa yang mempunyai kesamaan kebudayaan, kesamaan tujuan sehingga dapat menimbulkan rasa kesetiaan yang mendalam terhadap bangsa itu sendiri.
            Berbicara tentang nasionalisme, banyak diantara kita yang tahu akan nasionalisme tapi jarang atau bahkan tidak sama sekali jiwa nasionalis itu ada dalam kita. Terutama zaman sekarang ini sangat minim rasa nasionalisme terhadap remaja-remaja yang ada di Indonesia. 
Banyak faktor yang mempengaruhi pudarnya rasa nasionalisme tersebut :
1. Faktor Penyebab Internal
a)    Pemerintahan pada zaman reformasi yang jauh dari harapan para pemuda, sehingga membuat mereka kecewa pada kinerja pemerintah saat ini. Terkuaknya kasus-kasus korupsi, penggelapan uang Negara, dan penyalahgunaan kekuasaan oleh para pejabat Negara membuat para pemuda enggan untuk memerhatikan lagi pemerintahan.
b)    Sikap keluarga dan lingkungan sekitar yang tidak mencerminkan rasa nasionalisme dan patriotisme, sehingga para pemuda meniru sikap tersebut. Para pemuda merupakan peniru yang baik terhadap lingkungan sekitarnya.
c)    Demokratisasi yang melewati batas etika dan sopan santun dan maraknya unjuk rasa, telah menimbulkan frustasi di kalangan pemuda dan hilangnya optimisme, sehingga yang ada hanya sifat malas, egois dan, emosional.
d)    Tertinggalnya Indonesia dengan Negara-negara lain dalam segala aspek kehidupan, membuat para pemuda tidak bangga lagi menjadi bangsa Indonesia.
e)   Timbulnya etnosentrisme yang menganggap sukunya lebih baik dari suku-suku lainnya, membuat para pemuda lebih mengagungkan daerah atau sukunya daripada persatuan bangsa.

2. Faktor Penyebab Eksternal
a)    Cepatnya arus globalisasi yang berimbas pada moral pemuda. Mereka lebih memilih kebudayaan Negara lain, dibandingkan dengan kebudayaanya sendiri, sebagai contohnya para pemuda lebih memilih memakai pakaian-pakaian minim yang mencerminkan budaya barat dibandingkan memakai batik atau baju yang sopan yang mencerminkan budaya bangsa Indonesia. Para pemuda kini dikuasai oleh narkoba dan minum-minuman keras, sehingga sangat merusak martabat bangsa Indonesia.
b)    Paham liberalisme yang dianut oleh Negara-negara barat yang memberikan dampak pada kehidupan bangsa. Para pemuda meniru paham libelarisme, seperti sikap individualisme yang hanya memikirkan dirinya sendiri tanpa memperhatikan keadaan sekitar dan sikap acuh tak acuh pada pemerintahan.
Dimana peran pemerintahan dalam menanggulangi hal ini? Mereka perlu ditanamkan kembali rasa akan cinta tanah air dan bangga dengan bangsanya sendiri. Inilah tugas pemerintah untuk membangkitkan rasa nasionalisme yang tidak dimiliki oleh remaja. Meningkatkan kulaitas dan kuantitas produk dan hal-hal yang menyangkut bangsa Indonesia. Sehingga rasa nasionalisme dari bangsa ini tidak pudar dan hilang dengan begitu saja.
Rapuhnya rasa kebanggaan bagi bangsa selama beberapa tahun belakangan ini, sesungguhnya disulut oleh menguatnya sentimen kedaerahan dan semangat primordialisme pascakrisis.
Suatu sikap yang sedikit banyak disebabkan oleh kekecewaan sebagian besar anggota dan kelompok masyarakat bahwa kesepakatan bersama (social contract) yang mengandung nilai-nilai seperti keadilan dan perikemanusiaan dan musyawarah kerap hanya menjadi wacana belaka.
Pemberantasan korupsi terhadap para koruptor kelas kakap dan penegakan hukum dan keadilan yang sebenarnya sebagai sarana strategis untuk membangkitkan semangat cinta tanah air dalam diri anak-anak bangsa, tetapi semuanya tampak bohong belaka. Ini membuat generasi sekarang menjadi gamang terhadap bangsa dan negaranya sendiri, ketidakpercayaan rakyat terhadap negara menurun dan rasa cinta tanah air serta nasionalisme kaum pelajar melapuk.
Bukan hal yang aneh jika semangat solidaritas dan kebersamaan pun terasa semakin tenggelam sejak beberapa dekade terakhir. Boleh jadi, penyebab dari memudarnya rasa nasionalisme ini juga disebabkan oleh karena paradigma tentang bangsa dan nasionalisme yang kita anut, berjalan di tempat.
Padahal, perkembangan nasional dan global menuntut paradigma yang disesuaikan dari masa ke masa, sesuai dengan keadaan bangsa dan negara yang berdaulat. Dari dalam itulah lahir kesadaran berbangsa dan bernegara yang pada hakikatnya merupakan kesadaran politik yang normatif.
Dari sini pula kesadaran yang merupakan janin suatu ideologi yang disebut nasionalisme. Dalam arti, nasionalisme sebagai suatu paham yang mengakui kebenaran pikiran bahwa setiap bangsa demi kejayaannya seharusnya bersatu padu dan bertekad bulat dalam suatu kehidupan berbangsa dan bernegara.
Dari nasionalisme inilah lahir ide dan usaha perjuangan untuk mewujudkan negara bangsa. Di Indonesia, ide dan usaha seperti ini berkembang kuat pada tahun 1930-an dan memuncak pada tahun 1940-an. Yang kemudian menjadi problem besar di sini adalah, apakah tegaknya suatunation yang pada hakikatnya merupakan suatu produk kesadaran politik bernegara itu dapat dilakukan tanpa landasan kultur dalam kehidupan berbangsa dan bernegara?
Pertanyaan ini perlu diperhatikan dan dijawab. Sebab, tantangan yang paling berat bagi sebuah negara yang berdaulat sesungguhnya adalah bukan terutama pada sikap ekspansif dari negara tetangga seperti Malaysia dalam kasus Pulau Ambalat, tetapi lebih pada faktor kultur atau pemeliharaan budaya, sikap hidup atau perilaku hidup sehari-hari, seperti bagaimana kita menciptakan keadilan, perikemanusiaan dan lain-lain di dalam bangsa dan negara sendiri. Akhirnya, harus diakui bahwa nasionalisme telah merapuh. Cita-cita proklamasi kini ibarat gubug reyot yang siap roboh diterjang angin. Untuk itu, baik pemerintah maupun warga negara seyogyanya bahu membahu mewujudkannya. Karena, hanya dengan persatuanlah cita-cita proklamasi akan terwujud.

Upaya Untuk Menumbuhkan Kembali Nasionalisme dan Patriotisme di Kalangan Pemuda :
 1.  Peran Keluaga
a) Memberikan pendidikan sejak dini tentang sikap nasionalisme dan patriotism terhadap bangsa Indonesia,
b)    Memberikan contoh atau tauladan tentang rasa kecintaan dan penghormatan pada bangsa,
c)    Memberikan pengawasan yang menyeluruh kepada anak terhadap lingkungan sekitar, dan
d)   Selalu menggunakan produk dalam negeri.

 2.  Peran Pendidikan
a)   Memberikan pelajaran tentang pendidikan pancasila dan kewarganegaraan dan juga bela Negara.
b)   Menanamkan sikap cinta tanah air dan menghormati jasa pahlawan dengan mengadakan upacara setiap hari senin.
c)   Memberikan pendidikan moral, sehingga para pemuda tidak mudah menyerap hal-hal negatif yang dapat mengancam ketahanan nasional.
3.  Peran Pemerintah
a)   Menggalakkan berbagai kegiatan yang dapat meningkatkan rasa nasionalisme dan patrotisme, seperti seminar dan pameran kebudayaan.
b)   Mewajibkan pemakaian batik kepada pegawai negeri sipil setiap hari jum’at. Hal ini dilakukan karena batik merupakan sebuah kebudayaan asli Indonesia, yang diharapkan dengan kebijakan tersebut dapat meningkatkan rasa nasionalisme dan patrotisme bangsa.
c)   Lebih mendengarkan dan menghargai aspirasi pemuda untuk membangun Indonesia agar lebih baik lagi.